Meet Coburg!

Coburg! Kota kecil di selatan Bayern yang jadi sensasi karena semakin membludaknya populasi mahasiswa Internasional yang menempuh studi di Hochschule Coburg. Buat kebanyakan orang Indonesia khususnya, Coburg adalah pelabuhan transit pertama setelah pertama kali menginjakkan kaki di jerman selepas SMA, di mana di kota ini, banyak orang Indonesia yang menempuh 1-2 tahun Studienkolleg, sebelum akhirnya bertolak ke kota lain untuk memulai studinya di Hochschule, bzw. Fachhochschule. Sedikit intermezzo, Studienkolleg Coburg adalah salah satu dari 2 studienkolleg yang terdapat di negara bagian Bayern, yang satunya terdapat di München.

Bicara Coburg, ada beberapa hal yang menarik. Well, memang gak banyak, Coburg bukan kota sebesar München, Nürnberg, Stuttgart atau bahkan Berlin. Sebagai gambaran, kota Coburg, hanya memiliki satu postleitzahl, 96450, Coburg, hehe.. Coba bandingkan dengan Nürnberg atau München atau kota-kota yang jauh lebih besar lagi yang memiliki belasan bahkan lebih kode pos.

Anyway,

konon kabarnya, Coburg dulu merupakan retronya Eropa, di mana kerajaan yang pernah berkuasa di sini cukup besar dan memiliki pengaruh keluar yang cukup kuat, bahkan sampai ke Britania raya, kisahnya, salah satu Putri dari kerajaan Coburg dipersunting seorang Pangeran Albert dari Inggris. Dan semenjak pernikahan itu, Coburg menjadi lebih besar dan erat hubungannya dengan Inggris. Namun demikian, yang tersisa sekarang dari kejayaan tersebut hanyalah beberapa bangunan di kawasan Theaterplatz, semisal Schloss Ehrenburg atau Veste Coburg, yang termashyur dan menjadi trademark dari kota Coburg.

Saat ini, Veste Coburg telah berubah dari benteng pertahanan kerajaan, menjadi objek wisata di Coburg. Jalan menuju Veste Coburg, bisa dibilang jalur-santai-rekreasi yang makin lama makin menanjak, sedikit kok.hehe.Pedestrian panjang dengan padang rumput luas dan pohon-pohon rindang, cocok ditempuh saat santai kala weekend. Di tengah perjalanan, terdapat sebuah museum yang bertemakan alam, nämlich “Naturkunde museum”, yang cukup menarik untuk dikunjungi, well beberapa yang dipamerkan dan dianggap orang-orang menarik merupakan replika atau peralatan dari Indonesia. Ironis? Di Indonesia justru hal-hal seperti ini kurang mendapatkan apresiasi. (Fyi, tahun lalu, seluruh Coburgers 2008 menempuh jalur ini sampai ke Veste untuk “foto angkatan”, mungkin tahun ini ritual itu akan dilaksanakan kembali, dan akan dilestarikan).

Selain Veste, hal lain yang cukup menarik di Coburg adalah Coburger Bratwurst! Buat kalian penggemar bratwurst, jangan ngaku menggemari bratwurst kalau belum mencicipi bratwurst paling enak di Jerman! Dari liputan di TV, Coburger Bratwurst mengungguli Nürnberger dan Thüringer Rostbratwurst, lewat rasa, kandungan lemaknya, etc. Satu porsi Bratwurst dengan brotchen berharga 1,50 euro sampai 3 euro, tergantung event yang sedang berlangsung. Event-event yang berlangsung di Coburg misalnya: Studenten Konvention, Sommerfest (beberapa kali diadakan oleh institusi yang berbeda-beda), Samba fest, “Coburg macht blau” (seperti blaunacht di Nürnberg), Flöhmarkt setahun 2 kali dan lain sebagainya.

Anyway…

Bicara soal student Indonesia di Coburg, kami hidup berdampingan dengan sangat harmonis, kami saling menyayangi satu sama lain karena memang tidak banyak jumlah kami di sini, hehe. Tercatat sampai tahun ini ada 10 student di Coburg, termasuk yang sedang menempuh Praktikum, diplomarbeit atau wartesemester di kota lain. (Dedy, Heryanto, Eindy, Angga, Risang, Adit, Astar, Brian, Jayadi, Rita). Kegiatan besar kami lebih banyak dilakukan bersama-sama masyarakat Nürnberg, seperti bersama-sama mengunjungi Sportfest, Natalan /Lebaran bareng, tahun baruan bareng, dsb. Selain itu, dalam skala kecil-kecilan, masih ada kegiatan yang booming di antara kami antara lain Main billard di Pinaz setiap weekend, Capsa night (irgendein Abend), makan-makan di rumah siapa lah, Kino Abend (Film dari mininova atau dennyshotspot) dan main bola di realschule (bergabung dengan student lain). Kalo sommer dan matahari suah mulai terik, kami beberapa kali, seperti tahun lalu, mengadakan grillen bareng di belakang wohnheim. Catatan kecil mengenai Pinaz, selain tempat main billardnya yang bisa dibilang cukup classy and cozy, ada beberapa minuman yang saya rekomendasikan untuk anda coba pada saat mengunjungi Pinaz: Cola-Weizen dan Banana-Weizen.

Kebanyakan dari kami, student Indonesia di Coburg tinggal di Wohnheim/Studentenwerk. Letaknya kira-kira 3-5 menit dari FH dan SK yang terletak di satu kawasan termasuk mensanya juga. Di Studentenwerk Oberfranken, di coburg, atau biasa disingkat SWO, terdapat 5 gedung Wohnheim: 4 (Haus Gotha 1, Haus Gotha 2, Haus Coburg, Haus Sachsen) terletak di dekat FH (atau di atas, begitu kami menyebutnya, hehe) dan 1 (Goppelhaus) terletak di dekat zentrum, ca. 20 menit jalan kaki ke FH. Kebanyakan student yang baru datang ke Coburg biasanya langsung jatuh hati setelah melihat wohnheim murah meriah ini. Kira-kira, harga miete Wohnheim-wohnheim di Coburg berkisar antara 165 sampai 200 euro. detail bisa dilihat di http://www.swo.uni-bayreuth.de/wohnen/wohnenincoburg.htm. Kebanyakan dari kami tidak memiliki tiket bulanan, namun demikian kira-kira tiket bulanan per bulan di Coburg berkisar antara 20-30 euro.

Pada prinsipnya, keunggulan Coburg dari kota lainnya adalah kemungkinan mendapatkan pendidikan yang baik dibarengi dengan biaya hidup yang relatif sangat murah. Pengeluaran saya pribadi per bulan termasuk sewa kamar berkisar antara 250-400 euro, je nach dem. Bagaimanapun itu semua tetap tergantung dari kebutuhan masing-masing.

Link yang berkaitan:
www.coburg.de
www.sk-coburg.de
www.hs-coburg.de
http://www.swo.uni-bayreuth.de